Semakin canggih saja dunia pendidikan saat ini, salah satu buktinya adalah sekolah virtual. Mungkin tidak asing bagi mereka yang sudah lama berkutat pada canggihnya teknologi. Namun untuk mereka yang masih awam, mereka pasti bertanya-tanya "Apa sebenarnya sekolah virtual itu?".
Virtual mempunyai arti tak tampak. Jadi, sekolah virtual adalah kegiatan belajar-mengajar melalui sebuah media dunia maya. Tidak seperti sekolah biasanya jika seorang guru masuk ke dalam kelas dan di kelas tersebut sudah terdapat siswa yang menunggu gurunya. Namun, sekolah virtual merupakan sekolah yang bebas dilakukan dimanapun dan dalam keadaan apapun. Mereka yang mengikuti sekolah ini tidak mengenal ketatnya peraturan sekolah, kedisiplinan di sekolah dan seperti apa teman sebaya mereka. Mereka akan sibuk dengan komputer atau laptop masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar ini.
Seharusnya, seorang siswa tidak hanya diberi bekal hardskill (berupa mata pelajaran) namun mereka juga perlu soft skill untuk menghadapi lingkungan sosial nantinya. Saya khawatir jika teknologi ini terus berkembang karena saya takut jika kedepannya penerus bangsa kita menjadi orang yang egois dan tak mengenal dunia sosial. Sesuai kodratnya, manusia merupakan makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Dan menurut saya, bagaimanapun kecanggihan teknologi yang diberikan sekolah virtual kepada siswa-siswanya, kualitas dan mutu pasti lebih baik jika mereka sekolah seperti biasa di sekolah-sekolah nyata yang 'tidak virtual'.
Pada artikel tersebut juga disebutkan bahwa "Sekolah negeri virtual, yang mengijinkan pelajar mengambil semua pelajarannya dari Internet, telah menjadi sangat populer di Amerika Serikat, menawarkan apa yang disebut pendukungnya sebagai alternatif yang inovatif dan berbiaya terjangkau dibandingkan kelas konvensional". Menurut saya, biaya di kelas konvensional sebanding dengan hasil yang kita dapatkan nantinya. Jadi, wajar jika kelas konvensional lebih mahal dibanding sekolah virtual.
Untuk sebuah keadaan tertentu, seperti siswa yang dalam keadaan sakit dan tak mampu untuk berangkat ke sekolah, mungkin sangat membutuhkan keberadaan sistem pengajaran seperti ini. Atau mungkin atlit muda yang masih ingin melanjutkan sekolah disela-sela kesibukannya sebagai atlit, ia mungkin juga sangat membutuhkan sekolah virtual ini.
Jadi untuk pemecahan kasus ini, saran saya sekolah virtual ini masih perlu diadakan namun dengan syarat yang ketat, yaitu tidak semua siswa bisa mengikuti kegiatan sekolah virtual dan hanya siswa-siswa dalam keadaan/alasan tertentu yang dapat diterima. Untuk para orang tua, berhati-hatilah untuk memilih fasilitas pendidikan untuk anak anda karena pendidikan sangat penting bagi masa depan kita semua.
Credit : www.google.com
Virtual mempunyai arti tak tampak. Jadi, sekolah virtual adalah kegiatan belajar-mengajar melalui sebuah media dunia maya. Tidak seperti sekolah biasanya jika seorang guru masuk ke dalam kelas dan di kelas tersebut sudah terdapat siswa yang menunggu gurunya. Namun, sekolah virtual merupakan sekolah yang bebas dilakukan dimanapun dan dalam keadaan apapun. Mereka yang mengikuti sekolah ini tidak mengenal ketatnya peraturan sekolah, kedisiplinan di sekolah dan seperti apa teman sebaya mereka. Mereka akan sibuk dengan komputer atau laptop masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar ini.
Seharusnya, seorang siswa tidak hanya diberi bekal hardskill (berupa mata pelajaran) namun mereka juga perlu soft skill untuk menghadapi lingkungan sosial nantinya. Saya khawatir jika teknologi ini terus berkembang karena saya takut jika kedepannya penerus bangsa kita menjadi orang yang egois dan tak mengenal dunia sosial. Sesuai kodratnya, manusia merupakan makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Dan menurut saya, bagaimanapun kecanggihan teknologi yang diberikan sekolah virtual kepada siswa-siswanya, kualitas dan mutu pasti lebih baik jika mereka sekolah seperti biasa di sekolah-sekolah nyata yang 'tidak virtual'.
Pada artikel tersebut juga disebutkan bahwa "Sekolah negeri virtual, yang mengijinkan pelajar mengambil semua pelajarannya dari Internet, telah menjadi sangat populer di Amerika Serikat, menawarkan apa yang disebut pendukungnya sebagai alternatif yang inovatif dan berbiaya terjangkau dibandingkan kelas konvensional". Menurut saya, biaya di kelas konvensional sebanding dengan hasil yang kita dapatkan nantinya. Jadi, wajar jika kelas konvensional lebih mahal dibanding sekolah virtual.
Untuk sebuah keadaan tertentu, seperti siswa yang dalam keadaan sakit dan tak mampu untuk berangkat ke sekolah, mungkin sangat membutuhkan keberadaan sistem pengajaran seperti ini. Atau mungkin atlit muda yang masih ingin melanjutkan sekolah disela-sela kesibukannya sebagai atlit, ia mungkin juga sangat membutuhkan sekolah virtual ini.
Jadi untuk pemecahan kasus ini, saran saya sekolah virtual ini masih perlu diadakan namun dengan syarat yang ketat, yaitu tidak semua siswa bisa mengikuti kegiatan sekolah virtual dan hanya siswa-siswa dalam keadaan/alasan tertentu yang dapat diterima. Untuk para orang tua, berhati-hatilah untuk memilih fasilitas pendidikan untuk anak anda karena pendidikan sangat penting bagi masa depan kita semua.
Credit : www.google.com
0 komentar:
Posting Komentar